Selasa, 04 Oktober 2011

PERTOBATAN, KEBANGUNAN ROHANI, DAN PENGHUKUMAN KEKAL (CONVERSION, REVIVAL, AND ETERNAL RETRIBUTION)

Oleh Dr. R. L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Purwanto

“Sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12).

Tema tentang Neraka jarang sekali dikhotbahkan dari mimbar-mimbar kita hari ini. Bahkan dimana itu dipercaya, bahwa itu jarang menjadi subyek dari keseluruhan khotbah. Minggu malam yang lalu saya menyampaikan sebuah khotbah yang berjudul “Khotbah pada Zaman Penyesatan!” Di sana hanya ada dua penekanan singkat tentang Neraka dalam khotbah itu. Namun seorang pengunjung gereja kita berkata kepada saya setelah kebaktian bahwa itu adalah “Khotbah tentang api dan penghukuman Neraka.” Saya kira yang ia maksudkan adalah bahwa itu adalah khotbah yang serius, karena di sana hanya ada sedikit penekanan tentang Neraka. Saya takut bahwa di zaman kita ini banyak khotbah yang menyatakan bahwa Anda terhilang tanpa Kristus akan disebut sebagai khotbah tentang “Api dan penghukuman Neraka.”
Jadi jarang sekali tema tentang Neraka dikhotbah di mimbar-mimbar pada zaman kita ini yang memberikan peringatan tentang penghukuman kekal dalam khotbah yang segera disebut dengan “khotbah tentang api dan belerang Neraka.” Ini membuat mudah bagi orang berdosa yang belum bertobat untuk mengurangi atau men-discount pentingnya subyek yang sangat mengerikan itu. Namun Neraka tidak harus di-discount, diremehkan atau diabaikan. Ini harus secara terus menerus menjadi tema penginjilan yang sejati. Jika kita mengikuti contoh dari para pengkhotbah evangelical di masa lalu, dan jika kita mentaati Kitab Suci itu sendiri, tema tentang Neraka harus disampaikan dengan urgensi dan kuat dalam khotbah kita. Iain H. Murray menekankan itu dalam pengantar bukunya yang berjudul The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (The Banner of Truth Trust, 2005) bahwa William Booth, pendiri dari Bala Keselamatan, ketika ditanya oleh pewawancara pada tahun 1901 tentang apa bahaya utama yang akan terjadi pada abad 20 ini. Ia menjawab bahwa salah satunya itu adalah khotbah tentang “Sorga tanpa Neraka” (Murray, ibid., hal. xi).
Nampak bagi saya bahwa “prediksi” dari Booth benar-benar telah tergenapi. Banyak hamba Tuhan yang melayani berbagai pelayanan penguburan bagi orang-orang yang tidak pernah pergi ke gereja, atas permintaan keluarga yang ingin agar orang-orang yang terkasih yang telah meninggal itu, walaupun ia dalam hidupnya jarang masuk gereja, diberikan pelayanan penguburan sepenuhnya secara Kristen, dengan pendeta membuat pernyataan tentang “kebaikan-kebaikan” dari hidup mereka, dan mengatakan bahwa orang yang mati tanpa Kristus ini tanpa diragukan lagi sedang berjalan menuju Sorga, dari pada menjelaskan kebenaran: bahwa tidak perlu diragukan lagi bahwa mereka ada “dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12). Namun jika pengkhotbah itu menguraikan kata-kata Kristus ini secara rinci, ia akan segera mendapati bahwa tak seorangpun mau mendengarkan dia. Di sana Anda memiliki satu contoh tentang bagaimana “prediksi” dari Booth ini telah digenapi di mimbar-mimbar modern. “Sorga tanpa Neraka” hampir menjadi tema khotbah modern secara universal.
Bagaimana dengan persekutuan-persekutuan dan kebaktian-kebaktian kaum muda, dan kebaktian penginjilan? Lagi, “prediksi” Booth benar. “Sorga tanpa Neraka” hampir selalu menjadi tema dari pertemuan-pertemuan atau kebaktian kaum muda hari ini.
Dan dalam khotbah-khotbah di gereja-gereja hari ini tema tentang Neraka biasanya juga dihindari. “Sorga tanpa Neraka” hampir selalu menjadi tema sentral khotbah penginjilan “modern.”
Kembali ke tahun 1911 Dr. R. A. Torrey berkata bahwa tidak ada doktrin Alkitab
“…yang secara luas lebih banyak dipertanyakan pada zaman ini dari pada yang berhubungan dengan tujuan akhir di masa depan dari orang-orang yang menolak Yesus Kristus dalam hidup yang dihidupinya sekarang ini. Bahkan dalam [gereja-gereja konservatif] ada pengingkaran yang terus meluas, atau paling tidak peraguan, tentang penderitaan yang terus menerus, tiada akhir, bagi orang yang belum bertobat. Di mana kalau toh tidak ada pengingkaran atau peraguan berhubungan dengan doktrin ini, paling tidak ada kesunyian berhubungan dengan doktrin ini” (R. A. Torrey, D.D., The Higher Criticism and the New Theology, Gospel Publishing House, 1911, hal. 258).
Saya berpikir ada sejumlah alasan untuk fakta bahwa ada begitu sedikit khotbah tentang Neraka, bahkan di gereja-gereja konservatif. Salah satu alasannya adalah bahwa para pengkhotbah telah melupakan bahwa khotbah penginjilan harus mulai dengan Hukum Taurat. Doktrin tentang Neraka adalah Hukum Taurat. Dan banyak pengkhotbah tidak menyadari bahwa khotbah tentang Hukum Taurat harus disampaikan terlebih dahulu agar orang berdosa itu menyadari kebutuhannya akan Kristus.
Dalam bukunya yang sangat mengagumkan, The Old Evangelicalism: Old Truths for a New Awakening (The Banner of Truth Trust, 2005) Iain H. Murray menuliskan salah satu pasal dengan judul “Preaching and Awakening: Facing the Main Problem in Evangelism” [“Khotbah dan Kebangunan Rohani: Masalah Utama dalam Penginjilan”]. Dalam bab itu, Murray mengutip Mary Winslow, yang berkata,
Bagaimana ini terjadi bahwa pemberitaan injil telah menjadi begitu sedikit berefek dalam karya pertobatan? Saya tidak dapat tidak untuk membuat kesimpulan ini yaitu bahwa tidak akan pernah ada lagi kebangunan rohani di negeri ini [USA] sampai hukum Taurat dikhotbahkan kembali dengan sekuat tenaga untuk menyadarkan orang berdosa yang belum bertobat, menginsafkannya akan dosa, menunjukkan kepalsuan dari tempat perlindungannya, membentangkan kepadanya keadaannya [yang secara alami] telah rusak, dan menyingkapkan konsekwensi yang luar biasa dari hidup dan mati dalam keadaan yang tidak dibaharui (Murray, ibid., hal. 2).
Dalam bab itu Murray menekankan bahwa pada zaman kebangunan rohani sejati orang-orang dibuat sadar akan dosa mereka, murka Allah dan realitas akan Neraka. Murray berkata,
Sebelum Kebangunan Rohani abad delapan belas, sebagaimana Samuel Blair, seorang pendeta dari periode itu menulis: ‘Telah dipikirkan bahwa jika ada kebutuhan hati yang tertekan melihat bahaya jiwa, dan takut akan murka Allah, itulah satu-satunya yang dibutuhkan bagi orang-orang berdosa.’ Blair meneruskan perkataannya, berhubungan dengan kesadaran akan dosa yang datang menjadi seperti depresi mental dan seperti sesuatu yang ingin dihindari. ‘Banyak orang pada umumnya… tidak mempedulikan hati dan kebodohan untuk tidak memperhatikan hal yang besar berhubungan dengan kekekalan.’ Di New England, Jonathan Edwards berbicara dengan cara yang sama tentang orang-orang yang memandang neraka sebagai ‘sesuatu yang tiada lain selain sekedar sebuah fiksi untuk menakut-nakuti jemaat.’
       Kondisi umum ini kemudian diubah dengan Kebangunan Rohani Injili. Ketika Isaac Watts dan John Guyse menulis Kata Pengantar untuk edisi pertama dari buku Jonathan Edwards yang berjudul Narrative of Surprising Conversions pada tahun 1737, mereka memperhatikan suatu transformasi… dan mengamati, “Di manapun Allah bekerja dengan kuasa untuk keselamatan atas setiap pikiran manusia, akan ada penemuan tentang perasaan sadar akan dosa, tentang bahaya murka Allah.’
       Dalam setiap kebangunan rohani semuanya sama seperti itu (Murray, ibid., hal. 3-4).
Kebangunan-Kebangunan Rohani seperti itu sekarang sudah jarang. Namun saya adalah saksi mata untuk satu yang terjadi pada tahun 1960-an yang lalu. Seorang gembala dengan kuat dan terus menerus berkhotbah tentang dosa dan Neraka. Saya sendiri, sebagai seorang hamba Tuhan yang masih muda, sering diminta untuk berkhotbah kepada anak-anak muda, dan khotbah-khotbah saya sendiri berfokus kepada penghakiman dan murka. Pada suatu acara sekolah Alkitab liburan dan acara camp gereja, dan pada berbagai kesempatan lainnya, kata-kata dari Mazmur 139:23-24 ditetapkan sebagai musik. Ayat-ayat ini dinyanyikan berulang-kali, sebagai tema lagu dari masa kebangunan rohani pada waktu itu.
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24).
Kebangunan rohani itu berlangsung selama beberapa bulan. Ratusan anak muda membanjiri gereja, dan banyak yang dipertobatkan. Seluruh suasana hati dari kebangunan itu berlangsung dengan sangat serius. Ada keinsafan akan dosa yang sangat mendalam, banyak yang menangis, dan doa-doa syafaat terutama ditujukan untuk orang-orang terhilang. Saya tidak akan pernah melupakan kesempatan yang spesial itu selama hidup saya. Seperti yang telah saya katakan, masa kebangunan rohani itu berlangsung atau bertahan selama berbulan-bulan.
Anda tidak dapat “menciptakan” peristiwa seperti itu. Itu tidak dapat dihasilkan oleh apapun yang dilakukan oleh manusia. Namun saya tahu dengan pengamatan pribadi saya, dan dengan bertahun-tahun membaca tentang subyek itu, bahwa kebangunan rohani seperti itu selalu datang bersama dengan khotbah yang sangat serius tentang hukum Taurat – khotbah tentang dosa, Penghakiman Terakhir bagi orang-orang yang mati tanpa keselamatan, murka Allah, dan penghukuman kekal di Neraka – dan datang bersama dengan doa-doa yang serius bagi pertobatan orang-orang terhilang. Seperti yang dikatakan oleh Iain H. Murray, “Dalam setiap kebangunan rohani semuanya sama seperti itu” (ibid., hal. 4). Saya telah menjadi saksi mata untuk pemandangan seperti ini, yang Murray kutip berhubungan dengan kebangunan rohani yang mulai di Pyongyang, Korea pada tahun 1907,
Setiap orang melupakan semua. Setiap orang bertemu muka dengan muka dengan Allah. Saya dapat mendengar suara yang sangat menakutkan dari ratusan orang yang memohon kepada Allah untuk memperoleh hidup dan rahmat. Jeritan tangis menggema di seluruh kota itu sampai para penyembah berhala yang ada berada dalam kegemparan…. Memandang sorga, memandang Yesus yang telah mereka khianati, mereka memukuli diri mereka sendiri dan menangis dengan ratapan penuh kesedihan: ‘Tuhan, Tuhan, jangan lemparkan kami untuk selama-lamanya!’ Segala sesuatu yang lain telah mereka lupakan, tidak ada lagi yang berarti bagi mereka (Murray, ibid., hal. 4-5).
Saya telah berbicara banyak kali dengan seorang pendeta Korea yang kakeknya adalah salah satu orang yang bertobat dari kehidupan yang sangat penuh dengan dosa pada masa kebangunan rohani di Pyongyang. Pendeta ini menceritakan kepada saya tentang apa yang kakeknya pernah ceritakan kepadanya tentang kebangunan rohani yang agung itu.
Saya juga pernah melihat suatu peristiwa yang terjadi di gereja Caucasian (kulit putih) dan di gereja Cina. Saya telah melihat peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, saya tahu bahwa Allah dapat melakukan hal-hal seperti itu kembali. Namun demikian, kita harus dengan seksama, memahami bahwa kebangunan rohani yang seperti ini belum pernah terjadi di dunia berbahasa Inggris dalam tingkat yang luas sejak tahun 1949, di Pulau Lewis, daerah Skotlandia.
Selama hampir 60 tahun tidak pernah ada lagi kebangunan rohani seperti itu di dunia Barat, kecuali di beberapa gereja lokal (sungguh sangat sedikit!). Dan hal ini terjadi oleh karena “decisionisme,” ide palsu bahwa orang-orang dapat “diselamatkan” seketika dengan membuat suatu “keputusan” atau dengan cara yang lain. Mereka berkata “doa pengakuan dosa” atau “mengangkat tangan” pada suatu kebaktian dan kemudian diumumkan telah “diselamatkan.” Tidak ada ketakutan akan Allah. Tidak ada keinsafan akan dosa. Tidak ada rasa jijik di dalam dirinya berhubungan dengan keadaanya yang telah rusak total. Jadi, “kesaksian-kesaksian” modern jarang dipusatkan pada Penebusan oleh Darah Kristus Yesus. Juga, para pengkhotbah nampaknya takut untuk berbicara tentang Penghakiman Terakhir, murka Allah, dan Lautan Api, di mana itu adalah tempat bagi setiap orang yang tidak bertobat.
“…ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa…” (Wahyu 14:10-11).
Pertobatan yang benar dari seseorang mengikuti pola yang sama seperti yang terjadi pada banyak orang ketika kebangunan rohani datang. Pertobatan-pertobatan secara pribadi mengikuti bentuk yang sama yang kemudian dialami oleh banyak orang.
Jika Anda berharap dipertobatkan dengan sungguh-sungguh, Anda harus seperti orang-orang Korea pada tahun 1907, melupakan semuanya dan berdiri muka dengan muka dengan Allah, hati Anda ditembus oleh pikiran akan dosa Anda – dalam pemandangan Allah yang suci. Anda harus merasa, seperti yang mereka lakukan, “Tuhan, Tuhan, jangan lemparkan kami untuk selama-lamanya.” Tanpa keinsafan akan dosa dalam hati Anda, Anda tidak akan pernah dipertobatkan.
“Sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 8:12).

ALERT:MENANTANG KENYAMANAN ROHANI PANGGILAN PELAYANAN ANAK MUDA!!!

ALERT:MENANTANG KENYAMANAN ROHANI PANGGILAN PELAYANAN ANAK MUDA!!!

  • Terlalu menyedihkan kondisi sebagian besar anak-anak muda dibangsa ini sekarang, setan dengan begitu biadab menghancurkan tidak hanya moral tapi masa depan mereka. Berbagai kasus “broken home” dan pola pergaulan yang destruktif menjadi pemicu utama sehingga ana-anak muda terjerumus dalam praktek sex bebas, kumpul kebo, prostitusi, pornografi, pelecehan seksual, narkoba dan gaya hidup yang identik dengan pemberontakan. Makin maraknya kasus kehamilan di luar nikah, perceraian keluarga, kelahiran anak tanpa orang tua yang utuh semakin menambah potret suram kehancuran generasi ini. Keprihatinan kita saat mendengar kasus-kasus memilukan seperti di atas tidak akan pernah memberi jawaban jika kita hanya berpangku tangan dan sebatas mengeluh tetapi tidak berbuat sesuatu demi penyelamatan generasi yang terhilang di zaman ini.

    Orang-orang muda yang sebenarnya di nubuatkan Tuhan untuk menjadi pembawa obor kegerakan rohani hanyalah menjadi badut-badut tolol yang dipermainkan setan sehingga menjadi lelucon tontonan neraka. Bahkan komunitas yang menamakan diri “PELAYANAN ANAK MUDA KRISTEN”tidak jauh berbeda keadaannya dengan ikan hias-ikan hias dalam aquarium. Pelayanan anak muda tak jauh berbeda seperti hiasan dan pajangan dalam gereja tapi tidak mampu membawa pengaruh perubahan radikal ke dunia luar. Kita terjebak dalam bentuk-bentuk rohani sebuah pelayanan tapi kita kehilangan kualitas dan esensi dari hakikat panggilan pelayanan anak muda. Kita menjadi begitu bangga dengan segala gelar dan jabatan pelayanan padahal kita telah kehilangan fungsi dan peran utama dari panggilan pelayanan anak muda. Banyak anak muda kristen begitu bangga dan puas saat melayani di atas mimbar sebagai Worship leader, singer, pengkotbah dan pemain music bahkan pendoa syafaat tapi sebenarnya mereka adalah orang muda yang begitu egois dengan zona nyaman mereka yang diselimuti dengan penampilan rohani yang agamawi dan kaku. Gereja bagi mereka tidak bedanya seperti gudang yang hanya digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan orang-orang yang berjubah rohani tanpa mau melihat keluar jendela gereja terhadap orang-orang yang terlunta-lunta dalam lumpur kemaksiatan. Bahkan mungkin saat kita ditantang keluar menjangkau orang yang berlumuran lumpur dosa berbau busuk tangan kita merasa jijik untuk merangkul mereka datang kepada Tuhan. Jeritan kegelisahan hati dalam goresan artikel ini sebenarnya ingin menjadi cambuk pedas terhadap hati nurani kita yang mulai menjadi buta dan membatu karena keegoisan diri sendiri yang kurang peka dengan generasi yang terluka di luar gedung gereja. Seakan-akan rintihan dan tangis pilu para generasi yang terluka tersebut membahana dibalik kesunyian dan kehampaan batin mereka yang tertutupi oleh kebengisan dan pemberontakan yang mereka tampilkan.

    Hai……,engkau yang menamakan diri kumpulan orang muda yang meresponi panggilan Tuhan tapi melayani hanya demi kebutuhan jabatan, popularitas, dan rutinitas…!!!Matamu buta dan nuranimu telah menjadi batu karena keegoisanmu yang berjubah rohani! Saatnya engkau keluar dari zona nyamanmu saat ini juga dan menjangkau generasi yang terluka di zaman ini!

    Tanggalkan jubah dan kasut kemegahan dirimu dan menggantinya dengan kerelaan dan ketulusan seorang pemburu Tuhan sejati. Seorang pemburu Tuhan akan berlari bukan mengejar berkat tapi justeru lebih betah memikul salib Kristus. Salib Kristus yang adalah symbol kehinaan bagi dunia justru menjadi simbol kemuliaan yang tidak akan pernah dilepas dari bahu kita. Para pemburu Tuhan akan bangga dalam kehinaan karena kemuliaan salib Kristus. Betapa Tuhan sangat merindukan kebangkitan generasi dengan hati yang mengasihi-Nya melebihi apapun.

    Para pemburu Tuhan sejati memiliki keterpanggilan hati nurani untuk melakukan kehendak Tuhan karena hati mereka yang remuk mengasihi Tuhan dan rindu menyenangkan hati Tuhan. Sekalipun ditinggalkan sendiri bahkan dicemooh dan dihina oleh dunia, para pemburu Tuhan sejati justru tetap bertahan dalam kesetiaan mendaki gunung Tuhan memburu hati Tuhan. Bukan menjadi pelayan Tuhan yang munafik yang tidak lebih dari budak-budak uang dan popularitas yang memalukan dengan mentalitas murahan. Dengan jubah-jubah mewah tapi bermental pengemis yang hanya mengais-ngais kenikmatan dunia dalam ladang-ladang rohani. Pada akhirnya hanya membuat kita begitu berapi-api sebagai pengkhotbah di belakang mimbar berkilauan tetapi kita menjadi seorang pengecut dan pecundang memalukan saat diperhadapkan dengan keadaan genting dan membahayakan di medan pertempuran-pertempuran rohani!
    Genderang peperangan telah ditabuh melawan kenistaan dan kemaksiatan yang disebar oleh setan atas generasi di zaman ini!!!Bangkitlah…,bangkitlah…,hai para pejuang-pejuang muda yang diurapi Tuhan!!!


    Yoel 2:28-29:
    “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orang tuamu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu”.

    Yesaya 60:22:
    “Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; AKu Tuhan, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya”


    Jangan lagi biarkan setan memperdayai kita dengan dusta dan muslihatnya!!! Jangan biarkan lagi kita dipecundangi oleh iblis dengan kebohongannnya yang penuh tipu daya!!! jangan biarkan lagi dosa menjijikan mengikat kaki dan tangan kita sehingga kita tidak bisa menggenggam perisai dan pedang ilahi untuk bertempur!!!

    Bumi bergoncang, neraka gemetar ketakutan dan sorga bersorak!!!
    Di lembah-lembah yang dahulunya adalah ladang bangkai berbau kematian dan tulang-tulang kering berserakan telah diubahkan oleh otoritas profetik penggenapan nubutan Tuhan. Para Yehezkiel-Yehezkiel muda dibangkitkan Tuhan dalam urapan surgawi tanpa batas untuk membawa kebangkitan besar yang radikal bagi bala tentara Tuhan dilembah-lembah Israel. Lembah yang dulu disebut “lembah kematian” telah berubah menjadi “lembah kebangkitan bala tentara Tuhan” yang akan menaklukan setiap kota dan bangsa-bangsa!!!HALELUYA….!!!

    Kesederhanaan dan keluguan daud sebagai anak muda penggembala domba membuatnya begitu di remehkan di barisan tentara Israel. Namun saat Jemari Ilahi menyentuhnya dengan pengurapan membuatnya begitu perkasa dibalik kemudaannya yang lugu. Goliath yang tak terkalahkan bahkan mengerikan membuat barisan tentara Israel gemetar ketakutan dan dipermalukan. Amarah ilahi yang kudus pun membara dalam hati Daud karena bangsa pilihan Tuhan di pecundangi oleh bangsa tak bersunat. Lengan dan tangan Daud pun memungut batu kali dengan umbannya menantang goliath yang lengkap dengan peralatan perangnya. Cercaan dan hinaan tentara filistin tak membuatnya gentar dan malu karena keberaniannya membela umat pilihan Tuhan. Berbekal hati yang melekat dengan Tuhan serta keberanian ilahi, Daud berhasil membantai goliath dengan umbannya.
    Hai…..,engkau orang-orang yang diremehkan dan tidak diperhitungkan!!!atasmu Tuhan memberi otoritas-Nya! Bangkit….,Bangkit…,bangkit…,Terobos medan perang yang menakutkan dengan kekuatan ilahi yang ada padamu!!!

    Sudah saatnya engkau memggenggam kembali perisai dan pedang ilahi jika sebelumnya engkau sempat melepasnya. Identitas kita yang menamakan diri “anak muda” bukanlah hanya sekedar pajangan dalam gereja, bukanlah sekedar badut-badut tolol yang tak lebih dari seorang pecundang. Kita adalah “tentara-tentara Tuhan” yang akan mengalahkan musuh dan dengan pengurapan Roh Kudus kita akan menaklukan medan peperangan rohani dimana pun kita berada.
    Mari kita bersama bergandeng tangan dan sepakat melepas zona nyaman kita dan berlari ke garis depan penuh bahaya dengan perisai berkilau dan pedang terhunus untuk mengalahkan musuh. Tanggalkan jubah kenyamanan diri kita dan menjadi “generasi elia di akhir zaman” yang akan membawa api rekonsiliasi menyembuhkan luka kepahitan generasi ini. Berani berdiri meskipun hanya seorang diri menantang kesesatan dan kekerasan hati bangsa Israel.

    Jangan takut dengan intimidasi 450 nabi baal dan ratu izebel dengan ancamannya!!!
    Berlarilah….,Berlarilah….,mengejar panggilan surgawi, menyelamatkan yang terhilang!!! Bergeraklah….,Bergeraklah….,menebar benih kegerakan rohani kemana pun kau pergi!!!
    Berlarilah…,berlarilah…,mengejar hadirat-Nya sebagai pemburu Tuhan sejati sampai nafas terakhirmu berhembus. Biarkanlah melalui hidupmu menjadi rahim yang subur demi kebangkitan sebuah generasi yang begitu mencintai Tuhan secara radikal dan merekalah yang akan menjadi senjata-senjata Tuhan yang peling mengerikan dan ditakuti musuh sepanjang zaman!!!
    BANGKITLAH GENERASI ELIA DI AKHIR ZAMAN!!!
    HALELUYA!!!!


    PRESENTED ONLY BY HIS AMAZING GRACE FOR THIS LOST GENERATION:


    Ev.Jerry Bambuta
    Leader Of Maximized Youth Programme Manado
    (Pendiri Grup GENERASI ELIA AKHIR ZAMAN)

Keindahan Sebuah Proses

Alkisah di sebuah museum megah,
sebuah patung marmer yg sangat indah, diletakkan di atas lantai marmer.
Banyak pengunjung yg mengagumi patung cantik itu.

Di malam hari, si lantai mengajak sang patung untuk berbicara.

Lantai :
"Hei Patung, dunia ini tidak adil.
Mengapa semua pengunjung mengagumi kecantikanmu?
Sangat Tidak Adil!"

Patung:
"Temanku, apakah masih ingat bahwa sebenarnya kita berasal dari gua yang sama?"

Lantai:
"Tepat sekali!
Itu sebabnya aku tambah yakin kalau dunia ini tidak adil.
Kita dilahirkan dari gua yg sama,
namun mendapat perlakuan berbeda.
Tidak adil!"

Patung:
"Tapi kau masih ingat ketika si pemahat datang & berusaha membentukmu.
Kamu malah menolak usahanya?"

Lantai:
"Tentu aku masih ingat.
Aku sangat benci orang itu!
Aku tidak mengerti mengapa ia ingin membentukku & alat-alatnya sangat menyakitkan tubuhku."

Patung:
"Tepat sekali!
Si pemahat 'tak dapat bekerja denganmu karena kamu berusaha melawannya."

Lantai:
"Emangnya kenapa?"

Patung:
"Karena kau menolaknya membentukmu, maka si pemahat melirik aku.
Aku yakin hidupku akan berubah dengan sentuhannya.
Aku tidak melawan alat-alat pahatnya walaupun rasa sakit yang tidak tertahankan harus kulalui saat alat-alat itu mengukir, memotong dan mengikis bagian-bagian di diriku yang tidak diperlukan dan kemudian tanpa kusadari DIA telah menjadikanku patung yang indah seperti sekarang ini."

Lantai:
"Hmm..."

Patung:
"Temanku, selalu ada harga yang harus dibayar jika ingin mencapai sesuatu di dalam hidup ini.
Jika kita menyerah terhadap tantangan yang dapat merubah nasib kita,
kita tidak logis menyalahkan orang lain atas kemalangan yang dialami."

Note :
Proses Tuhan membentuk kita memang terkadang sangat menyakitkan, tapi saat kita taat maka hasilnya pasti akan indah.
Hadapi apapun yang terjadi, jangan pernah menyerah & serahkan hidupmu kepada Tuhan yang membuat segalanya indah pada waktunya.
Itulah cara menjadi Juara Sejati..