Senin, 16 Januari 2012

ANAK PANAH


Anak Panah

 
Pernahkah kau mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari harapan?
Pernahkah kau melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?
Pernahkan kau melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kau lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?
Pasti pernah, bukan?
Kita seperti anak panah di tangan Tuhan. Ada masa-masa anak panah itu melesat cepat terlepas dari gandewanya menuju sasaran yang dimaksudkan. Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam tabung-Nya.
 
Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam gandewa-Nya ditarik kebelakang..sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran.
Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh. Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat.
Jadi…Jika kau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah : mungkin Tuhan tengah meletakkanmu di busur-Nya. Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat kau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran.
Dan jika kau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan,”Apinya telah padam”
Jadilah teman yang baik, yang mendampingi di saat temanmu sedang “dimundurkan” karena dengan demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai.
Kau, aku, mereka…adalah anak-anak panah ditangan Tuhan. Hidup untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan. Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, karena semua akan indah pada waktunya.

Senin, 12 Desember 2011

Qoutes

Tubuh kita hanya satu, waktu kita terbatas, sehingga kita perlu menimbang secara bijaksana, tidak mungkin meluluskan setiap permintaan.

Tips Menjadi Gereja Kesaksian



Setiap kali saya naik taxi, saya berusaha membayar lebih, minimal pembulatan ke atas. Kembalian di bawah 10 ribu saya relakan untuk sopir taxi. Biasanya sopir taxi merespon dengan sukacita dan ucapan terima kasih. Pun kalau saya naik angkutan umum, saya berusaha membayar lebih. Misalnya tarif 2 ribu, saya bayar 3 ribu.
Suatu ketika, karena sesuatu hal, saya pergi kebaktian ke gereja naik angkutan umum. Saya turun persis di depan gereja. Seperti biasa, saya bayar lebih dari tarif normal. Pulang dari gereja, ternyata, saya naik angkot yang sama seperti waktu berangkat. Sopirnya juga masih sama. Ajaibnya, sopir ini menawarkan mengantar kami sampai ke rumah (rumah kami masuk gang, bukan di pinggir jalan). Kami bersedia diantar sampai rumah, karena waktu itu penumpangnya hanya saya, istri dan anak kami. Saya pikir, sopir angkot ini pasti menawarkan mengantar kami sampai rumah karena waktu berangkat tadi kami membayar lebih.
Lalu saya berpikir, seandainya semua umat Tuhan, jemaat gereja, yang pergi ke gereja menggunakan angkot atau taxi atau ojek membiasakan diri untuk membayar lebih, maka SAYA YAKIN, minimal dalam satu tahun saja, gereja tersebut akan “terkenal baik” di kalangan sopir-sopir. Dan pada akhirnya mereka akan tertarik untuk mengenal YESUS.
Untuk para Gembala GPdI di milis ini, saya sarankan mencoba tips ini dengan menggerakkan jemaat untuk “membayar lebih” kepada sopir angkot/taxi/ojek setiap kali pergi ke gereja. Amin.
Play Casting Crowns "Who Am I"