MEMOBILISASI ANAK MUDA UNTUK KEGERAKAN ROHANI DI AKHIR ZAMAN BAGI TUHAN YESUS KRISTUS!
Senin, 12 Desember 2011
Qoutes
Tubuh kita hanya satu, waktu kita terbatas, sehingga kita perlu menimbang secara bijaksana, tidak mungkin meluluskan setiap permintaan.
Tips Menjadi Gereja Kesaksian
Setiap kali saya naik taxi, saya berusaha membayar lebih, minimal pembulatan ke atas. Kembalian di bawah 10 ribu saya relakan untuk sopir taxi. Biasanya sopir taxi merespon dengan sukacita dan ucapan terima kasih. Pun kalau saya naik angkutan umum, saya berusaha membayar lebih. Misalnya tarif 2 ribu, saya bayar 3 ribu.
Suatu ketika, karena sesuatu hal, saya pergi kebaktian ke gereja naik angkutan umum. Saya turun persis di depan gereja. Seperti biasa, saya bayar lebih dari tarif normal. Pulang dari gereja, ternyata, saya naik angkot yang sama seperti waktu berangkat. Sopirnya juga masih sama. Ajaibnya, sopir ini menawarkan mengantar kami sampai ke rumah (rumah kami masuk gang, bukan di pinggir jalan). Kami bersedia diantar sampai rumah, karena waktu itu penumpangnya hanya saya, istri dan anak kami. Saya pikir, sopir angkot ini pasti menawarkan mengantar kami sampai rumah karena waktu berangkat tadi kami membayar lebih.
Lalu saya berpikir, seandainya semua umat Tuhan, jemaat gereja, yang pergi ke gereja menggunakan angkot atau taxi atau ojek membiasakan diri untuk membayar lebih, maka SAYA YAKIN, minimal dalam satu tahun saja, gereja tersebut akan “terkenal baik” di kalangan sopir-sopir. Dan pada akhirnya mereka akan tertarik untuk mengenal YESUS.
Untuk para Gembala GPdI di milis ini, saya sarankan mencoba tips ini dengan menggerakkan jemaat untuk “membayar lebih” kepada sopir angkot/taxi/ojek setiap kali pergi ke gereja. Amin.
Play Casting Crowns "Who Am I"
Kamis, 27 Oktober 2011
Zona Tidak Nyaman
Tulisan saya kemarin berjudul Zona Nyaman. Secara ringkas, zona
nyaman mengandung bahaya yaitu membuat kita tidak lagi rindu mengenal
kebenaran dan tidak lagi rindu mengabarkan berita keselamatan. Semoga
kita tidak terjebak di dalamnya.
Kali ini saya menulis mengenai zona tidak nyaman. Zona tidak nyaman
tidak kalah berbahayanya dibanding dengan zona nyaman. Bahkan, mungkin
lebih berbahaya dibandingkan zona nyaman.
Ijinkan saya membagi zona tidak nyaman menjadi dua, eksternal dan internal.
Zona tidak nyaman eksternal,
contohnya kita belum mempunyai penghasilan tetap, atau penghasilan tetap
kita masih kecil. Kita belum mempunyai rumah sendiri, belum mempunya
jaminan asuransi kesehatan dan pendidikan untuk anak-anak kita, belum
punya mobil -sementara teman-teman kita sudah-, belum punya ini, belum
punya itu, belum bisa beli ini, belum bisa beli itu. Atau kita merasa
tubuh kita tidak sesehat dulu, waktu kita tidak sebebas dulu. Kerja
masih ikut orang lain, sementara kita ingin kerja mandiri tetapi belum
mampu. Sungguh, kita berada di zona tidak nyaman eksternal. Karena
keterbatasan kita secara fisik maupun keuangan.
Zona tidak nyaman internal, contohnya kita masih bergumul dengan
karakter kita yang kurang baik. Kita -yang tentu saja paling mengenal
diri kita sendiri- merasa masih banyak kekurangan. Masih banyak sifat
buruk. Tidak lebih baik dibandingkan orang lain. Masih perlu dibereskan.
Tidak se-rohani orang lain. Masih sering “bermasalah”. Pokoknya, kita
merasa tidak layak untuk berbicara hal-hal rohani. Logis, karena kita
merasa masih banyak yang perlu diperbaiki dalam karakter kita. Kita
berada di zona tidak nyaman internal.
Melanjutkan tulisan ini, saya tidak mempunyai ide lain selain mengajak Anda membuka 2 Timotius 4:2
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Tim 4:2)
Ayat di atas menasehatkan, baik atau tidak baik waktunya, siap sedialah untuk memberitakan firman.
Anda (dan saya) berada di zona nyaman? O, itu waktu yang baik. Mari beritakan firman!
Anda (dan saya) berada di zona tidak nyaman? Maaf, itu mungkin kondisi yang kurang baik. Tapi, mari beritakan firman!
Anda (dan saya) masih bergumul dengan ekonomi keluarga? Memang waktu yang tidak mudah. Tapi, mari beritakan firman!
Anda (dan saya) masih punya karakter yang buruk? O, saya bisa
memahami betapa itu situasi yang tidak nyaman. Tapi, mari beritakan
firman!
Mungkin kita merasakan sebuah
kejanggalan, bagaimana mungkin dengan karakter yang buruk kita bisa
berbicara tentang firman? Kalau kita bersedia berbicara soal firman
menunggu karakter kita baik, sampai kita dipanggil Tuhan pun kita tidak
akan punya waktu untuk itu. Karena proses penyempurnaan karakter kita
berlangsung seumur hidup. Kecuali, karakter baik yang kita maksud adalah
tampilan luar kita yang tampak baik di depan orang.
Max Lucado, dalam bukunya Aktor-aktor Allah, menulis daftar beberapa tokoh dalam Alkitab, sebagai berikut :
– MUSA si pembunuh.
– YAKUB menipu Esau atas dorongan ibu mereka sendiri, Ribka.
– YUSUF senang pamer sehingga membuat murka saudara-saudaranya.
– TAMAR berpura-pura menjadi wanita penghibur dengan harapan dapat memaksa Yehuda menepati janjinya.
– RAHAB tidak berpura-pura menjadi wanita penghibur. Ia memang salah satu wanita seperti itu di lokalisasi Yerikho.
– SIMSON yang terjerumus dalam dosa.
– RAJA DAUD pembunuh raksasa yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya, dan memiliki banyak istri.
– Anaknya, SALOMO, mempunyai banyak istri dan kekayaan.
– THOMAS yang meragukan Tuhan
Max Lucado melanjutkan tulisannya, dengan pertanyaan yang dijawabnya sendiri, yang tentu akan membuat dahi kita mengernyit :
“Siapakah orang-orang ini -orang-orang yang karakternya dapat dipertanyakan? Kita. Itulah jati diri mereka.”
Saya tutup tulisan saya dengan kalimat yang saya dapatkan dari
seorang teman asal Semarang yang sekarang menjadi pemberita kabar baik
di Amerika :
“Tuhan tidak memilih orang yang sempurna, tetapi Dia akan menyempurnakan orang yang dipilihNya.”
So, baik atau tidak baik waktunya, mari tetap beritakan kabar baik.
Tuhan memberkati.
Amin.
dalam anugerahNya (zona tidak nyaman)
Langganan:
Postingan (Atom)